Sudah besar, sudah hampir masuk sekolah, tetapi masih ngedot. Bagaimana ya, kalau keterusan? Aksan sudah 3,5 tahun. Namun, setiap kali minum susu pagi, atau mau bobok siang dan malam, ia minta dibuatkan susu di botol. Setelah itu, hmm...dunia serasa miliknya. Karena, jagoan bertubuh subur ini bakal asyik ngedot sambil merem melek.Papi-Maminya jelas kuatir. Karena, beberapa bulan lagi Aksan akan masuk sekolah. Masak botol susunya ikut jadi bekal sekolah? Selain itu, di keluarga besar mereka, banyak sepupu Aksan yang masih ngedot sampai usia SD. Ih, nggak lucu, kan?Menurut Psikolog Perkembangan Pambadjeng ,Psi kebiasaan Aksan sebenarnya masih tergolong perilaku wajar para batita. Tetapi, bukan berarti boleh diabaikan saja. Karena, itu bisa menjadi perilaku yang menetap sampai ia semakin besar. "Dan, semakin lama anak tidak dilepaskan dari dot susu, empeng atau ibu jari yang dihisapnya, mereka akan semakin tergantung, dan menjadikan hal ini kebutuhan," cetus Pambadjeng. Menurutnya, "Seharusnya anak tidak akan mengedot susu, ngempeng, atau menghisap jari kalau sejak berhenti ASI mereka sudah dibiasakan minum dengan gelas. Waktu tepat mengajarkan anak minum dengan gelas adalah saat ia bisa duduk sendiri." Karenanya, begitu anak satu tahun, sedikit demi sedikit ia harus mulai meninggalkan kebiasaan minum susu dengan botol. Dan, mulai belajar menggunakan piring, gelas, dan sendok seperti orang dewasa. Menyapih anak usia setahun dari botol, dot, atau empeng mudah, kok. Jadi, kalau sampai mereka tidak menginggalkan kebiasaan itu hingga usia 2-3 tahun, bahkan sampai TK maupun SD, hm, pasti ini karena orangtuanya kurang tegas saat menyapih.Ketergantungan yang Tidak SehatMenurut Sigmund Freud, sejak lahir sampai usia 18 bulan, kepuasan seorang anak memang terletak pada bagian mulut, atau sebutannya fase oral. Karena itu, aktivitas mengisap puting susu atau ngedot sangat disukai anak. Namun, menurut Pambadjeng, bisa juga terjadi, anak masih ngedot lantaran ada kebutuhannya yang tidak terpuaskan.Sehingga, ia menjadikan kepuasan mulut sebagai pelarian. Ya, kira-kira sama seperti orang dewasa yang makan untuk menghubur dirilah. Kebutuhan anak yang tidak terpuaskan itu misalnya, kebutuhan untuk berbicara. Karena perkembangan bicaranya belum baik, didorong rasa frustasi, anak memilih untuk "menyumpal" mulutnya sendiri dengan dot yang nikmat. "Jadi, rasa-rasanya orangtua yang punya masalah dengan anak yang sulit disapih harus mencermati, jangan-jangan ada masalah kebutuhan tersembunyi ini pada anak," saran Pambadjeng.Faktor lain yang membuat anak hobi ngedot, menurut Psikolog di Klinik Anakku, Ike R. Sugiarto, adalah karena kelambatan dalam proses peralihan dari botol ke gelas (menyapih). Misal, pada usia satu tahun, anak belum dibiasakan minum susu dari gelas. Keterlambatan menyapih ini, terang Ika, bisa membuat anak keenakan minum dengan cara diisap lewat botol, sehingga malas belajar menyeruput. Mereka pun sekaligus akan menjadikan dot "tempat penghiburannya". Semakin lama orangtua menunda penyapihan, semakin sulit anak menyesuaikan diri dengan alat minum lain. "Ia pun jadi sangat tergantung botol. Sehingga, ada kemungkinan menjadi tidak percaya diri kalau tidak ada botol dalam hidupnya. Ya, jadi ketergantungan atau mencandu," ujar Ika. Ia melanjutkan, seseorang yang semasa kanak-kanak pernah mengalami ketergantungan semacam ini, mungkin akan mengalami ketergantungan pada sesuatu yang lain di usia dewasa. Hiii, ini bukannya menakut-nakuti, lho. Kemungkinan lain anak tetap lengket dengan botolnya adalah, karena selama proses belajar minum, orangtua atau pengasuh kurang memberi dukungan. Alih-alih mensupport anak minum dari gelas, mereka malah over protective. Seperti, sering mengingatkan, "awas tumpah", atau "awas gelasnya pecah", atau "hati-hati pegangnya", dsb. Ini bikin anak takut, khawatir kalau salah dan memecahkan gelas. Akibatnya, ia memilih menggunakan botol yang dianggapnya lebih aman.Menurut Ike, memang, adakalanya proses penyapihan terasa berat dan tidak menyenangkan bagi anak maupun orangtua. Saat itu, Si Kecil bisa mogok minum susu atau hanya minum sedikit dibanding kalau pakai botol. Andai anak berkelakuan begitu, dia menyarankan agar orangtua tidak perlu khawatir dan "terpancing". "Jangan buru-buru menyerah dan mengembalikan botolnya, ya. Tetapi, teruslah melatih dan memberi anak penghargaan untuk capaiannya. Lama-lama anak akan terbiasa, kok."Merusak Mulut dan GigiBaik Ike dan Pambadjeng menegaskan orangtua untuk segera menyapih anak dari dot dan empeng. Ini karena, selain menimbulkan masalah psikologis, kelamaan ngedot juga mencetus problem kesehatan. Yang paling pasti, kesehatan gigi. Lalu, kesehatan mulut (lidah, gusi, langit-langit mulut dan tenggorokan). Selain itu, ya masalah kesehatan tubuh pada umumnya. Karena, anak yang ngempeng mudah kemasukan bakteri atau virus dari media empengnya. Apalagi kalau kebersihan empeng dan dot tidak terjaga; sering jatuh ke lantai, sudah asam, butek, jamuran, koyak (biasanya, semakin "tua" dot atau empeng, semakin digemari anak!). Sedangkan, bagi anak yang "ngedot" dengan jari, gangguan kesehatan juga akan terjadi pada jari tangan yang kalau keseringan dikulum di mulut bisa jamuran, gripis dan gepeng.Menurut Drg. Astri dari Klinik Sentra Ortodontik, Kebiasaan ngedot yang terus-menerus banyak mempengaruhi perkembangan struktur gigi. Ini karena, dot menekan tempat tumbuh gigi atau gusi. Sehingga, gigi tumbuh lebih maju ke depan. "Lambat laun anak menjadi tonggos, sebab tekanan dari botol susu, empeng atau ibu jari dapat mendorong gigi bergerak ke depan," katanya.Memang sih, belum tentu pertumbuhan gigi susu yang tonggos akan berefek tonggos pula pada gigi tetap. "Setelah semua gigi susu tanggal, jika pertumbuhan gigi tetap baik, kemungkinan besar anak tidak mengalami tonggos lagi. Tetapi, kalau ternyata gigi tetap pun ikut-ikutan tonggos, terpaksa anak berusia 8-9 tahun harus menggunakan kawat gigi.Selain berdampak tonggos, kelamaan ngedot menurut Astri dapat membuat lubang pada gigi, sebutannya karise susu botol. Biasanya semua gigi keropos dan berwarna coklat. Penyebabnya adalah susu yang terlalu lama menggenang di mulut.Masih ada lagi, pemilihan dot yang keliru juga bisa menyebabkan pertumbuhan gigi tidak sempurna. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Straub, Picard, Najera dan Garnliner, pertumbuhan gigi dan gusi kurang baik sebagian besar disebabkan pemilihan dot susu yang kurang tepat. Itulah sebabnya, dokter ahli di bidang pertumbuhan gigi dan mulut menciptakan dot othodontic untuk mencegah terjadinya pendorongan gigi ke depan.Menurut penemunya Dr. Adolph Muller dot orthodontic dirancang menyerupai puting susu ibu (menyusu lewat payudara ibu adalah pilihan yang tidak mempunyai efek merusak gigi). Sesuai penelitian, menyusu dengan dot orthodontic membuat anak melakukan 569 gerakan dalam waktu 13 menit, dan menghasilkan 70 gr susu. Sedang, dengan dot biasa, anak menghisap jauh lebih sedikit jumlah susu, manun dengan hisapan lebih kuta sampai-sampai lidah menekan ke atas, yang mengakibatkan gigi jadi tonggos. Jadi, jangan tunda menyapih si kecil dari dotnya!"Memangnya Spiderman Ngedot?"Mengajarkan anak meninggalkan kebiasaan ngedot susah-susah gampang. Apalagi, jika ia "cinta mati" dot atau empengnya. Selain butuh kesabaran dan ketelatenan, juga harus pandai membesarkan ego anak. Misal, daripada memarahinya untuk minum dari gelas, lebih baik bersiasat sehingga ia melakukan hal itu secara sukarela, nyaman, dan fun. Di bawah ini beberapa triknya:
Sumber: Tabloid Ibu Anak